MENINGKATKAN KUALITAS KEISLAMAN DI TAHUN BARU

Oleh: Ust. Ali Wafa

BAROMETER KUALITAS KEISLAMAN
Setiap orang memiliki kualitas keislaman yang berbeda-beda sesuai dengan fluktuasi keimanan yang terjadi pada diri mereka setiap waktu dan tempat, sesuai dengan tingkat kuat tidaknya ruhiyah atau spritual masing-masing hati mereka. Kualitas keimanan seseorang juga dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap Islam itu sendiri.

Untuk mengetahui kadar keislaman dan keimanan kita Rasulullah sallallahu `alaihi wa sallam telah memberikan rambu-rambu dan barometer yang jelas. Diantara barometer itu adalah sejauh mana ibadah yang kita lakukan memberikan atsar atau pengaruh positif terhadap perilaku dan akhlaq kita dalam kehidupan pribadi, rumah tangga, bermasyarakan dan bernegara? Karena dalam aturan Allah dan Rasul-Nya setiap ibadah yang di lakukan seseorang harus mendatangkan efek serta nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.

Di antara ukuran atau barometer lain yang diberikan Rasulullah sallallahu `alaihi wa sallam untuk mengetahui baik tidaknya keislaman kita adalah meninggalkan segala hal yang tidak berguna dan tidak ada manfaatnya. Diriwayatkan dari Abi Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah telah bersabda:

”.. من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه ”
“Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.” (H.R Tirmidzi dan periwayat lainnya). Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam kitabnya “Al-Arba’in” bahwa derajat hadits ini hasan. Syaikh Salim Al-Hilali (Murid Syaikh Al-Albani rahimahullah) dalam kitabnya Shahih Al-Adzkar wa dhi’fuhu bahwa derajatnya shahih lighorihi (shahih karena adanya riwayat yang lainnya). Jadi hadits ini bisa dijadikan dasar untuk beramal.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan “Hadits ini merupakan pondasi yang sangat agung diantara pondasi adab.” Beliau mengatakan dalam “Jami’ul ‘Ulum wal Hikam” ‘Sesungguhnya barangsiapa yang baik Islamnya pasti ia meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting/bermanfaat baginya”. Ukuran penting atau bergunanya itu tentu ditimbang dari syari’at, bukan menurut rasio atau akal, atau hawa nafsu. Termasuk meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting ialah meninggalkan yang makruh, samar-samar, bahkan berlebih-lebihan dalam masalah mubah.

Imam Ibnu Rajab mengatakan pula “Kebanyakan pendapat tentang meninggalkan apa-apa yang tidak berguna ialah menjaga lisan dari apa-apa yang tidak berguna, seperti umpatan, dll”
Oleh karena itu hendaklah setiap kita berhati-hati dalam berucap atau melakukan sesuatu, karena allah subhanahu wa ta`ala maha mendengar dan maha mengetahui segala apa yang tampak dan yang tersembunyi. Allah subhanahu wa ta`ala juga mengutus malaikat-Nya untuk mencatat setiap kata yang terucap dari lisan hamba-Nya dan setiap perbuatan yang dilakukan oleh setiap manusia. Allah berfirman:

ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد
“Tidaklah seseorang mengucapkan sesuatu ucapan kecuali ada malaikat yang mengawasi dan mencatat” (Qaaf: 18).
Umar bin Abdul Aziz berkata “Barangsiapa yang membandingkan antara ucapan dan perbuatannya, maka ia tidak akan berbicara kecuali hanya dalam hal yang penting saja.”  Imam An-Nawawi berkata: “Ketahuilah, setiap mukallaf (orang yang dewasa dan terbebani hukum syari’at) diharuskan untuk menjaga lisannya kecuali untuk hal-hal yang mengandung maslahat/kebaikan. Apabila sama maslahatnya, jika ia berkata ataupun diam, sunnah untuk menahannya, karena kata-kata yang mubah dapat menjerumuskan seeorang dalam hal-hal yang haram atau makruh, dan ini sering terjadi. Padahal mencari keselamatan itu tak ada bandingannya.”

Imam Ibnu Qoyyim berkata “Menjaga lisan ialah dimaksudkan agar seseorang jangan sampai mengatakan hal yang sia-sia. Apabila hendak berkata, maka hendaknya di pikirkan apakah ada manfaat bagi dien/ agamanya. Apakah akan terdapat manfaat dari apa yang diucapkannya itu? Jika bermanfaat, maka katakan lagi, adakah kata-kata yang lain yang lebih bermanfaat atau tidak?”. (Dari kitab Ad-Daa’u wad Dawaa’). Kata beliau juga “Adalah sangat mengherankan orang bisa menghindari dari hal-hal yang haram, berzina, mabuk-mabukan, mencuri, memandang hal yang diharamkan, dan lainnya, tetapi sulit menjaga gerakan lisannya. Sampai-sampai ada orang yang dipandang ahli ibadah, zuhud, tetapi ia berbicara dengan ucapan yang tanpa ia sangka telah mendatangkan murka Allah.”

Ancaman itu sebagaimana dalam hadits Nabi sallallahu `alaihi wa sallam, beliau bersabda :”Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kata-kata, ia tidak memikirkan (baik/buruk) didalamnya maka ia tergelincir disebabkan kata-katanya itu ke dalam neraka sejauh timur dan barat” (HR. Bukhari Muslim)

Seorang ‘Alim negeri Saudi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya Syarah Riyadhus Shalihin menasehatkan beberapa hal; Seorang Muslim yang ingin baik Islamnya maka hendaklah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Contohnya, jika engkau bingung, apakah mengerjakan sesuatu atau tidak jadi, maka lihatlah apakah ia mengandung manfaat dalam agamamu dan dunia, atau tidak penting. Jika penting, maka lakukanlah, jika tidak maka tinggalkanlah karena mencari keselamatan harus diutamakan.

Demikian pula jangan pula mencampuri urusan orang lain jika kamu tidak ada kepentingan terhadapnya. Janganlah seperti kebanyakan orang hari ini, dimana rasa ingin tahu terhadap masalah yang sedang dibicarakan oleh dua orang mendorongnya untuk mendatangi keduanya itu dan mencampurinya.

MENINGKATKAN KUALITAS KEISLAMAN DI TAHUN BARU
Bergantinya tahun dan masa dalam kehidupan kita, semakin berkurangnya umur kita seharusnya menjadikan diri kita semakin semangat untuk meningkatkan kwalitas keislaman dan keimanan, bukan malah menghancurkannya dengan amal-amal yang tidak ada manfaatnya. Seharusnya kita lebih mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata`ala.

Kita semua telah melewati dan memperingati tahun baru dalam setiap pergantian tahun. Namun apakah diri kita semakin baik dari tahun ke tahun? Kita telah melewati berbagai peristiwa dalam kehidupan kita, baik peristiwa yang baik maupun peristiwa buruk, Namun sudahkah kita mengambil pelajaran dan menjadikan setiap peristiwa itu sebagai motivator untuk lebih baik lagi? Kita telah menghabiskan begitu banyak nikmat dan karunia Allah yang diberikan kepada kita, namun sudahkah kita bersyukur kepada Allah? Bukan syukur dengan lisan saja, tetapi syukur yang di aktualisasikan dengan amal-amal nyata. Syukur dengan meninggalkan semua kema`shiatan yang kita lakukan dan melakukan semampu mungkin setiap perintah Allah dan sunnah-sunnah Rasulullah.

Di momentum tahun baru ini, saatnya kita membuktikan eksistensi kita sebagai muslim yang sejati. Di moment ini pula saatnya kita untuk mewujudkan apa yang Allah perintahkan dalam Al Qur’an, yaitu berlomba-lomba melakukan kebaikan-kebaikan. Allah subhanahu wata`ala berfirman :

”……..فاستبقوا الخيرات…..“
Maka berlomba-lombalah kalian (dalam) kebaikan…”

Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta`ala berfirman :
وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السموات والأرض أعدت للمتقين. ( آل عمران 133
Dan bersegeralah kalian kepada ampunan tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa. ( Ali imron 133)
Semoga di tahun baru ini kita di beri kekuatan, hidayah dan taufiq oleh Allah. Agar kita bisa meningkatkan kualitas keislaman dan keimanan kita. Amiin ya robbal `alamin.

Selamat Tahun Baru 1436 Hijriyah

Selamat Tahun Baru 1436 H

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. (QS. At-Taubah: 36)

Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1436 Hijriyah. Semoga kita senantiasa menjadi Insan Muhajir. Amin

Pesan Dari Hasan Al-Basri rohimahullah

Hasan Al-Basri rohimahullah pernah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz rohimahullah. Isi surat tersebut bisa menjadi pesan bagi kita dalam menjalani kehidupan ini. Dalam suratnya Hasan Al-Basri berkata:

“Ketahuilah, sesungguhnya tafakkur Itu mengajak pelakunya kepada kebaikan dan mengamalkannya. Menyesali kejahatan Itu membuat pelakunya meninggalkannya.

Apa yang telah hilang – kendati sangat banyak-tidak bisa dibandingkan dengan apa yang masih ada, kendati mencarinya adalah sesuatu yang mulia. Bersabar terhadap kelelahan sebentar yang menghasilkan istirahat lama itu lebih baik, daripada penyegeraan istirahat sebentar yang menghasilkan kelelahan abadi.

Waspadalah terhadap dunia yang menipu, berkhianat, dan memperdaya. Ia berhias dengan tipuannya, berdandan dengan muslihatnya, membunuh manusia dengan mimpi-mimpinya, dan membuat ridu para pelamarnya, hingga Ia menjadi seperti pengantin yang menjadi pusat perhatian. Semua mata melihat kepadanva.

Semua hati rindu kepadanva dan semua jiwanva tertarik kepadanya. Ia menjadi pembunuh bagi semua suami- suaminya. Tragisnya orang yang masih hidup tidak mau belajar dari orang yang telah meninggal dunia, generasi terakhir tidak mengambil pelajaran dari generasi pertama, orang bijak tidak mendapatkan manfaat dari banyaknya pengalaman, dan orang yang kenal Allah dan beriman kepada-Nya tidak ingat ketika ia diberi penjelasan tentang dunia.

Akibatnya, hati manusia mencintai dunia dan jiwa mereka kikir dengannya. Ini semua tidak lain bentuk kerinduan kita kepada dunia, karena barangsiapa merindukan sesuatu, Ia tidak memikirkan yang lain. Ia mati ketika memburunya atau berhasil mendapatkannya. Kedua orang tersebut adalah perindu dan pemburu dunia.

Perindu dunia telah sukses mendapatkan dunia dan tertipu dengannya. Dengan dunia, Ia lupa akan prinsip dan hari akhirat. Hatinya disibukkan oleh dunia. Hatinya dibuat larut oleh dunia, hingga kakinya tergelincir di dalamnya, dan kematian datang kepadanya dengan sangat cepat daripada sebelumnya. Ketika itu, penyesalanya pun menggelembung, kesedihannya membesar, terkumpul padanya sakaratul maut dan rasa sakitnya dengan sedih kehilangan dunia.

Sedang orang kedua meninggal sebelum berhasil memenuhi kebutuhannya. Ia pergi dari dunia dalam keadaan terpukul hatinya, tidak mendapatkan apa yang dicarinya dan jiwanya tidak bisa istirahat dari kelelahan. Ia keluar dari dunia tanpa bekal dan tiba tanpa membawa oleh-oleh. Oleh karena itu, waspadalah secara penuh terhadap dunia, karena dunia itu tak ubahnya seperti ular; kulitnya halus, namun racunnya mematikan.

Berpalinglah dari apa saja di dunia ini yang menarik hatimu, karena jarang sekali sesuatu yang ada di dunia ini yang menemanimu. Buanglah seluruh ambisi kepada dunia dari dalam hatimu, karena engkau mengetahui dunia itu menyakitkan dan engkau yakin akan berpisah dengannya. Oleh karena itu, waspadalah wahai Amirul Mukminin. Karena sesungguhnya pemilik dunia, setiap kali ia senang kepadanya maka itu berubah menjadi kebencian.

Orang yang gembira di dunia ialah orang yang tertipu, orang yang bermanfaat di dalamnya kelak menjadi orang yang merugi, kemakmuran di dalamnya diberikan bercampur dengan cobaan, dan keabadian di dalamnya berubah menjadi fana. Kebahagiaan di dalamnya bercampur dengan kesedihan, dan akhir kehidupan di dalamnya adalah lemah dan tidak berdaya. Oleh karena itu, lihatlah dunia seperti penglihatan orang zuhud yang hendak meninggalkannya, dan jangan melihat dunia seperti penglihatan perindu yang jatuh cinta.

Ketahuilah, bahwa dunia itu menghilangkan tamu yang telah menetap, dan menyakitkan orang tertipu yang merasa aman. Apa yang telah berlalu dari dunia tidak akan kembali lagi, dan apa yang akan datang tidak bisa diketahui, apa lagi ditunggu!

Waspadalah terhadap dunia, karena mimpi-mimpinya dusta belaka, khayalan-khayalannya batil, kehidupannya melelahkan, dan kejernihannya adalah keruh. Engkau terancam mendapatkan dua hal di dunia ini; nikmat yang akan sirna, dan cobaan yang akan datang, atau musibah yang menyakitkan, dan kematian yang memutus segala-galanya.

Sungguh, dunia itu melelahkan seseorang, jika ia mau berpikir. Ia berada dalam nikmat yang membahayakan, takut terhadap musibah-musibah yang ada di dalamnya, dan meyakini kematian. Seandainya Allah Yang Maha pencipta tidak menyampaikan berita tentang dunia, dan tidak memberi perumpamaan tentang dunia, dan tidak memerintahkan manusia bersikap zuhud di dalamnya, pasti dunia membangunkan orang yang tidur, dan mengingatkan orang yang lupa diri!

Bagaimana tidak, padahal telah datang pelarang dari Allah Azza wa Jalla dan banyak sekali penasihat di dalamnya? Dunia di sisi Allah Azza wa Jalla tidak ada bobot dan nilainya. Berat dunia di sisi Allah Ta’ ala tidak seberat satu kerikil, dan tidak sebesar satu bintang di antara gugusan bintang yang ada. Allah tidak menciptakan makhluk yang Lebih Dia benci dari pada dunia –seperti di sampaikan kepadaku- dan Dia tidak melihat kepada-Nya sejak Dia menciptaknnya karena benci kepadanya.

Sungguh dunia dengan kunci-kuncinya dan semua simpanannya yang nilainya di sisi Allah Lebih ringan dari sayap lalat , pernah diperlihatkan kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun beliau menolak menerimanya, karena beliau telah mengetahui bahwa jlka Allah membenci sesuatu, beliau harus membencinya. Jika Allah mengkerdilkan sesuatu, beliau harus mengkerdilkannya. Dan jika Allah
merendahkan sesuatu, beliau harus merendahkannya.

Jika beliau menerima dunia tersebut, maka bukti kecintaan beliau kepada dunia tersebut ialah penerimaan beliau terhadap tawaran dalam bentuk dunia tersebut. Namun beliau menolak mencintai sesuatu yang dibenci Allah, dan mengangkat apa yang direndahkan Pemiliknya.

Jika Allah Ta’ala tidak menunjukkan tentang rendahnya nilai dunia kepada beliau, namun Dia memandang rendah dunia tersebut dengan menjadikan kebaikannya sebagai pahala bagi orang-orang yang taat, dan menjadikan hukuman dunia sebagai siksa bagi orang-orang yang bermaksiat. Kemudian Allah mengeluarkan pahala taat dari dunia tersebut, dan mengeluarkan hukuman maksiat daripadanya.

Diantara hal menunjukkan kepada dunia tentang keburukan dunia ini, bahwa Allah Ta’ala menjauhkan dunia dari orang-orang yang shalih dengan suka rela dan membentangkannya kepada musuh-musuh-Nya dengan tujuan menipunya.

Orang yang tertipu dengan dunia dan tergoda dengannya menyangka bahwa ia dimuliakan Allah Ta’ala dengan dunia tersebut. Ia lupa terhadap apa yang diperbuat Allah terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Nabi Musa ‘Alaihis Salam.

Adapun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau mengikatkan batu diperutnya karena saking laparnya.

Adapun Nabi Musa ‘Alaihis Salam, beliau tidak meminta sesuatu kepada Allah Ta‘ala pada saat ia berteduh di bawah pohon, selain makanan yang bisa beliau makan untuk menghilangkan kelaparannya.

Sungguh banyak sekali riwayat-riwayat dan Nabi Musa ‘Alaihis Salam, bahwa Allah Ta’ala mewahyukan kepada beliau , Hai Musa, jika engkau melihat kemiskinan datang kepadamu, katakan, ‘Selamat datang simbol orang-orang shalih.’ Jika engkau melihat kekayaan datang kepadamu, katakan, ‘ini adalah dosa yang hukumannya dipercepat.’

Jika engkau mau, aku ketengahkan Nabi Isa ‘alaihis salam kepada baginda, karena ia amat menakjubkan. Ia berkata, “Lauk-ku adalah lapar, Syi’arku ialah takut, Pakaianku ialah wol, Hewan kendaraanku ialah kedua kakiku. Lampuku di malam hari ialah bulan. Bahan bakarku di musim dingin ialah matahari. Buah -buahanku dan penghidupanku ialah apa yang ditumbuhkan bumi untuk binatang buas dan hewan ternak. Aku tidur dalam keadaan tidak memiliki apa-apa dan tidak ada seorang pun yang lebih kaya dariku”.

Jika engkau mau, aku ketengahkan contoh keempat, yaitu Nabi Sulaiman bin Daud Alaihimas Salam, karena ia tidak kalah menakjubkan. Ia makan roti dan gandum, memberi roti coklat kepada keluarganya, dan tepung putih kepada rakyatnya.

Jika malam telah tiba, ia memakai baju dari tenunan kasar, dari tangannya ke lehernya Ia semalaman menangis hingga pagi hari. Ia makan makanan yang kasar, dan mengenakan pakaian kasar. Kendati Itu semua, mereka membenci apa saja yang dibenci Allah Ta’ala, memandang kecil apa yang dipandang kecil oleh Allah Ta’ala, dan bersikap zuhud di dalam hal-hal yang Allah bersikap zuhud di dalamnya.

Kemudian orang-orang shalih meniti jalan mereka, menapaktilasi jalan mereka, mengharuskan dirinya berlelah-lelah, dan memahami lbrah, serta merenung diri.

Mereka bersabar di dunia yang singkat ini dari kenikmatan yang menipu yang berakhir kepada kemusnahan. Mereka melihat kepada akhir dunia, dan tidak melihat kepada permulaannya. Mereka melihat kepada hasil akhir dunia yang pahit, dan tidak melihat rasa manis yang hanya terasa pada awal-awalnya saja.

Mereka mengharuskan dirinya bersabar dan menempatkan diri mereka seperti mayit-mayit yang tidak boleh kenyang di dunia, kecuali pada saat yang dibutuhkan. Mereka makan sebatas untuk menguatkan jiwa, dan ruh. Mereka menempatkan diri mereka seperti bangkai yang telah membusuk, hingga membuat siapa saja yang melewatinya, pasti Ia menutup hidungnya. Mereka tidak meraih dunia hingga sampai tahap merugikannya, dan tidak sampai kenyang yang berbau busuk.

Dunia dijauhkan dari mereka. Itulah kedudukan dunia dalam jiwa mereka. Mereka merasa heran terhadap orang yang memakan dunia hingga kekenyangan, dan bersenang-senang dengannya hingga rakus. Mereka berkata, Tidakkah kalian lihat bahwa mereka tidak takut makan? Tidakkah mereka mendapatkan bau busuknya?

Saudaraku, demi Allah sesungguhnya bau dunia sekarang atau esok itu lebih busuk daripada bangkai. Hanya saja manusia meminta sabar dengan segera. Akibatnya, mereka tidak bisa mencium bau busuk. Mereka tidak bisa mencium bau-bau yang ada di kulit yang membusuk yang mengganggu para pejalan kaki, dan orang-orang yang duduk di dekatnya.

Cukuplah dunia bagi orang yang berakal, bahwa barangsiapa meninggal dunia dengan meninggalkan harta yang banyak, Ia sangat berkeinginan seandainya dulu ia menjadi orang miskin di dunia, atau orang mulia, atau orang buangan, atau orang selamat. Ia lebih senang seandainya di dunia dulu ia menjadi orang yang menderita, atau rakyat biasa.

Jika engkau meninggalkan dunia ini, pasti engkau lebih senang seandainya engkau di dunia ini menjadi orang yang paling rendah kedudukannya, dan orang yang paling miskin. Bukankah ini cukup dijadikan bukti bahwa dunia itu sangat hina bagi orang yang memikirkannya??

Demi Allah, jika seseorang mengharapkan sesuatu dari dunia ini melainkan ia mendapati dunia tersebut berada di sampingnya tanpa ia kejar dan merasakan kelelahan. Namun jika Ia telah mendapatkan sesuatu dari dunia tensebut, ia mempunyai hak-hak Allah di dalamnya, dan ia akan ditanya tentang dunia tersebut, serta ia akan dihisab karenanya. Jika demikian permasalahannya, maka seyogyanya orang berakal itu tidak mengambil sesuatu dari dunia, kecuali sebesar porsi makanannya dan kebutuhannya, karena khawatir akan ditanya tentang dunia tersebut, dan takut akan dahsyatnya hisab terhadap dirinya.

Sesungguhnya dunia itu jika engkau memikirkannya, tidak lebih dari tiga hari: hari kemarin yang tidak bisa engkau harapkan lagi, hari ini yang engkau berada didalamnya yang harus engkau manfaatkan sebaik mungkin, dan hari esok yang engkau tidak tahu apakah engkau berada di hari tersebut atau tidak? Engkau tidak tahu siapa tahu engkau meninggal dunia esok pagi.

Adapun kemarin, ia ibarat orang bijak yang pandai mendidik. Adapun hari ini, ia ibarat teman yang akan mengucapkan selamat berpisah. Namun, kendati kemarin telah membuatmu sakit, engkau telah menggenggam hikmah. Jika engkau telah menyia-nyiakannya, engkau mendapatkan ganti. Tadinya kemarin tersebut tidak ada pada dirimu, namun sekarang ia cepat pergi darimu.

Adapun esok hari, engkau masih mempunyai secercah harapan. Oleh karena itu, berbuatlah, dan jangan tertipu oleh mimpi-mimpi sebelum ajal tiba. Engkau jangan memasukkan kesedihan esok dan esok lusa ke dalam hari ini, karena hal tersebut hanya akan menambah kesedihanmu dan kelelahanmu, serta engkau kumpulkan pada hari ini sesuatu yang menyempurnakan hari-harimu. Itu hal yang mustahil, karena kesibukan Itu sangat padat, kesedihan Itu semakin bertambah, kelelahan itu semakin besar, dan seseorang membuang amal dengan impian kosong.

Seandainya harapan esok pagi keluar dari hatimu, engkau telah berbuat dengan baik pada hari ini, dan telah mengurangi kesedihanmu pada hari ini. Namun harapanmu terhadap esok pagi itu membuatmu bersikap tidak serius, dan membuatmu menjadi orang yang banyak menuntut.

Jika engkau ingin kata-kata singkat, aku pasti mendiskripsikan untukmu tentang dunia di antara dua jam; satu jam yang telah berlalu, satu jam yang akan datang, dan satu jam yang engkau sedang berada di dalamnya.

Adapun satu jam yang telah berlalu dan telah lewat, maka engkau tidak mendapatkan kelezatan di istirahat keduanya dan merasakan sakit terhadap musibah keduanya. Sesungguhnya dunia ialah saat yang engkau sedang berada di dalamnya. Satu jam tersebut menipumu dari surga dan menggiringmu ke neraka.

Adapun hari ini -jika engkau memikirkannya- adalah ibarat tamu yang singgah kepadamu dan akan pergi darimu. Jika engkau menjamu dan melayaninya dengan baik, Ia menjadi saksi bagimu, memujimu, dan membenarkanmu di dalamnya. Jika engkau menjamunya dengan buruk, Ia berputar di kedua matamu.

Kedua hari tersebut adalah ibarat dua saudara. Salah seorang daripadanya bertamu kepadamu, kemudian engkau bersikap buruk terhadapnya, dan tidak menjamunya dengan baik. Sesudah orang tersebut pergi darimu, datanglah orang satunya, kemudian berkata kepadamu, Aku datang kepadamu setelah kepergian saudaraku.

Jika engkau berbuat baik kepadaku, perbuatan baikmu ini akan menghapus perbuatan burukmu kepada suadaraku sebelum ini dan memaafkan apa yang telah engkau perbuat terhadapnya. Hati-hatilah engkau, jika aku berkunjung kepadamu dan aku datang kepadamu setelah kepergian saudaraku darimu. Sungguh, engkau telah beruntung mendapatkan pengganti jika engkau mau berfikir.Periksalah apa yang telah engkau sia-siakan!

Jika engkau menyamakan orang kedua seperti orang pertama, maka alangkah pantasnya engkau binasa karena kesaksian dua orang tersebut terhadap dirimu!

Sesungguhnya sisa umur itu tidak ada nilainya. Seandainya semua dunia dikumpulkan, maka dunia tidak lebih dari satu hari dalam umur seseorang.

Jangan sekali-kali mayat di kuburan itu lebih bisa menghargai sesuatu yang ada di tanganmu daripada engkau sendiri padahal sesuatu tersebut milikmu. Demi Allah,  jika dikatakan kepada mayat di kuburan. ‘Inilah dunia itu dan awal hingga akhir. Engkau memberikannya kepada anak-anakmu kemudian mereka bersenang-senang dengannya sepeninggalmu. Engkau lebih mencintai mereka ataukah lebih mencintai hari di mana engkau dibiarkan beramal untuk dirimu? Pasti ia memilih pilihan kedua..

Bahkan, seandainya ia disuruh memilih satu jam dengan waktu berjam-jam milik orang lain seperti telah aku jelaskan kepadamu, pasti ia lebih memilih waktu satu jam tersebut untuk dirinya.

Bahkan lagi, jika ia disuruh memilih antara satu kata yang mendapatkan pahala dengan hal-hal lain seperti telah aku jelaskan kepadamu, pasti ia lebih menyukai satu kata tersebut.

Periksalah dirimu hari ini! Lihatlah waktu! Agungkanlah kata! Hati-hatilah terhadap kerugian ketika Hari Kiamat telah tiba! Semoga Allah menjadikan nasihat ini bermanfaat bagiku dan bagimu. Semoga Allah memberi kita hasil yang baik.

Sumber : Buku Wasiat –wasiat Ulama terdahulu , Oleh Syaikh Salim l’ed Al-Hilali hafidzahullah, Penerbit: Dar Ibnu Jauzi. Cet. 2 1112 H/ 1991 M

Pernak-Pernik Hati

Oleh: Ust. Nafis, Lc.

Gerak fisik (amal) merupakan jendela hati. Bersih atau kotornya hati terpancar dalam bentuk perilaku seseorang. Seseorang itu tidak dapat dikatakan bersih hatinya manakala ia cenderung melakukan kemungkaran dan kemaksiatan, oleh sebab itu Imam Ghozali dalam kitabnya “AJAAIBUL QULUB”, mengatakan: “hati yang bersih laksana cermin yang jernih sehingga memudahkan seseorang untuk mengaca diri, adakah cacat atau belang pada dirinya. Hati yang kotor laksana cermin yang buram dan kusam, membuat seseorang sulit mengaca atau bahkan tidak tahu rupa dirinya, apakah ada cacat atau aib pada tubuhnya.”
Berkenaan dengan hati dan problematikanya ini Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam beberapa abad yang lalu dalam riwayat Bukhori dan Muslim telah bersabda : “Ingatlah bahwa dalam jasad itu ada sekerat daging, jika ia baik maka jadi baiklah jasad seluruhnya dan jika ia rusak maka rusaklah jasad seluruhnya. Sekerat (segumpal) daging itu adalah hati”.
Manusia merupakan makhluk Allah yang paling mulia di muka bumi ini dan sesuatu yang paling mulia dalam diri manusia adalah hati, karena padanya keimanan bersemayam.
Sesungguhnya setiap manusia bisa mengerti dan memahami segala permasalahan hanya dengan hati, serta bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk itu juga dengan hati. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) …” (QS. Al A’raf: 179). Firman-Nya yang lain: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaaf :37)
Dari uraian ayat-ayat di atas bisa diambil kesimpulan, betapa hati memiliki peran yang sangat vital dalam diri manusia, berkata salah seorang ulama: “Sesungguhnya hati itu apabila sudah menjadi baik, maka akan menjadi baiklah segala macam amal perbuatannya, sesuai dan konsisten terhadap segala perintah agama dan yang demikian itu karena iman telah tertanam dalam hati. Tapi bila hati itu sakit atau rusak, maka rusak pula seluruh amal perbuatan, dan jika hati telah rusak maka seseorang tidak bisa mengontrol sepak terjangnya lagi, tidak mempunyai rasa malu, dia merasa dirinya sempurna dan tidak ada lagi tempat untuk mempertimbangkan semua sepak terjang yang dilakukan.”
Apabila seseorang semua aktifitasnya rusak dan kotor semua amalannya, berarti hatinya rusak atau sedang sakit, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “…Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?” (QS. Muhammad : 29)
MACAM – MACAM HATI
Imam Ibnu Qoyyim al Jauziyyah menyebutkan dalam salah satu bukunya: “Hati itu bisa hidup dan bisa mati, hati dapat dikelompokkan menjadi :
Pertama: Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Barangsiapa menghadap Allah Ta’ala tanpa membawanya tidak akan selamat di hari kiamat nanti. Allah Ta’ala berfirman: “ Adalah hari yang mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. As Syura : 88-89).
Hati yang selamat di definisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat, keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah, dari setiap syubhat dan dari ketidak jelasan yang menyeleweng dari kebenaran. Hati ini selamat dari beribadah kepada selain Allah Ta’ala dan berhukum kepada selain Allah. Ubudiyahnya, Iradahnya, mahabbahnya, inabahnya, khasy-syahnya, raja’nya, semuanya murni karena Allah.
Ini saja tidak cukup, apabila ia tidak benar-benar tunduk dan berhukum kepada Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam. Hatinya telah terikat kepadanya dengan ikatan yang kuat untuk menjadikannya sebagai satu-satunya panutan, dalam perkataan dan perbuatan. Allah Ta’ala berfriman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian bersikap lancang (mendahului) Allah dan Rasul Nya, dan bertaqwalahkepada Allah ! Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat :1)
Kedua: Hati yang mati. Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal siapa Rabbnya, ia tidak beribadah kepada Allah, tidak menjalankan perintah-Nya atau menghadirkan sesuatu yang dicintai dan diridloi-Nya. Hati model ini selalu berjalan bersama hawa nafsu dan kenikmatan duniawi, meskipun dibenci dan dimurkai oleh Allah Ta’ala. Baginya yang penting adalah memenuhi keinginan hawa nafsu. Ia menghamba kepada selain Allah. Hawa nafsu telah menguasainya, mengendalikannya dan lebih ia cintai daripada keridloan Allah Ta’ala. Kebodohan adalah sopirnya dan kelalaian adalah kendaraan baginya, seluruh pikirannya dicurahkan untuk menggapai target-target duniawi.
Ketiga: Hati yang sakit. Hati yang sakit adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit. Ia akan mengikuti unsur yang kuat dari dua unsur sehat atau sakit. Kadang-kadang ia cenderung kepada “kehidupan” dan kadang-kadang pula ia cenderung kepada “penyakit”. Padanya ada kecintaan, keimanan, keikhlasan dan tawakkal kepada Allah Ta’ala. Padanya pula ada kecintaan dan ketamakan terhadap syahwat, hasad, kibr dan sifat ujub, yang merupakan sumber bencana dan kehancurannya. Ia ada diantara dua penyeru, penyeru kepada Allah, Rasul Shallallahu ’Alaihi wa Sallam dan hari akhir, dan penyeru kepada kehidupan duniawi. Seruan yang akan disambutnya adalah seruan yang paling dekat, paling akrab.
Demikianlah, hati yang pertama adalah hati yang hidup, khusyu’, tawadlu’, lembut dan selalu berjaga. Hati yang kedua adalah hati yang gersang dan mati. Hati yang ketiga adalah hati yang sakit, yang kadang-kadang dekat kepada keselamatan dan kadang-kadang dekat kepada kebinasaan. Wallahu ‘alam bishawab.

Belajar Bahasa Arab jadi Trend di Amerika

Mau tahu mengapa mahasiswa Amerika Serikat punya minat tinggi belajar Bahasa Arab??

Hasil Survey Languages and Cultures Department United States Naval Academy diterbitkan di International Journal of Humanities and Social Science Nov. 2013:

1. Interest in the language (Tertarik dengan bahasa Arab).

2. Interest in the Arab culture/history (Tertarik dengan budaya/sejarah Arab).

3. It is required for my major (Tuntutan pekerjaan/kuliah).

4. Learn a different language (Belajar bahasa lain).

5. Work at a government agency (Bekerja sebagai Agen Pemerintah).

6. Advantage when job hunting (Keunggulan saat mencari kerja).

Seorang responden mengatakan : “I learn Arabic because I am a patriot. America needs Arabic speakers.” (Saya belajar bahasa Arab karena saya seorang pejuang, Amerika butuh orang yang bisa bahasa Arab).

Jika Amerika saja butuh belajar bahasa Arab, mengapa anda tidak?

Daftar sekarang juga dengan Klik gambar di bawah ini:

Desain Poster2

Selamat Hari Raya Idul Adha 1435 H

Sebagaimana Takbir yang bersaut-sautan sedari malam tadi, alangkah indahnya jika setiap aktifitas membuat kita teringat kepada Allah swt. Maka setiap detik adalah ibadah yang tak putus-putus…

Civitas Akademika Ma’had Abdurrahman Bin ‘Auf Malang mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1435 H. Mari jadikan semangat berkurban sebagai momen untuk selalu mengingat Allah swt.

10628213_293130027552525_8324374952228606094_n 1390769_293129920885869_754716822083706874_n 10354871_293129837552544_8198246285380447772_n 10441057_293129774219217_5205993676351842422_n 10552494_293129980885863_8017719383204174837_n

Program Akhir Pekan DIBUKA Kembali

Ma’had Abdurrahman Bin ‘Auf Malang Kembali membuka Program Bahasa Arab dan Studi Islam untuk waktu belajar di Akhir Pekan. Informasi Lengkap mengenai Program ini bisa dilihat pada gambar berikut ini:

PROGRAM AKHIR PEKAN
MA’HAD ABDURRAHMAN BIN ‘AUF
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
PENDIDIKAN BAHASA ARAB DAN STUDI ISLAM

Tujuan :

1. Meningkatkan kualitas dan kapasitas warga Muhammadiyah di Malang Raya dalam Berbahasa Arab

2. Menyediakan Sarana Belajar bagi Warga Muhammadiyah untuk
belajar Bahasa Arab dan Studi Islam di tengah waktu terbatas

Sasaran :

1. Pengurus, Kader, Anggota Muhammadiyah di wilayah Malang Raya

2. Corps Mubaligh Muhammadiyah (CMM)

3. Masyarakat Umum yang ingin belajar Bahasa Arab dan Studi Islam

Waktu Belajar :

Hari Jum’at jam 15.30 s/d 19.30 wib dan
Hari Sabtu jam 13.00 s/d 17.00 wib

Tempat Belajar :

Ma’had Abdurrahman Bin ‘Auf Malang
Masjid AR Fachruddin Lantai V Kampus III Universitas
Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang

Iklan Akhir Pekan

Hasil Tes Penempatan Kelas Mahasiswa Baru

Berikut ini adalah hasil Tes Penempatan Kelas Mahasiswa Baru Ma’had Abdurrahman Bin ‘Auf Semester Ganjil Tahun Ajaran 2014-2015.

Silahkan Klik pada masing-masing Judul untuk Mengetahui Hasil Tes Penempatan kelas.

Hasil Tes Penempatan Kelas-Putra

Hasil Tes Penempatan Kelas-Putri

1. Bagi yang namanya tidak tercantum, segera menghubungi Ibu Hoiriyah di Sekretariat Putri atau Bapak Fuad di Sekretariat Putra

2. Seluruh mahasiswa baru WAJIB melakukan Daftar Ulang dengan Mengisi Formulir Herregistrasi, melengkapi dokumen pendaftaran dan membayar Biaya Daftar Ulang. Daftar Ulang secara Online bisa klik di sini

3. Pembelian Buku Paket dapat dilakukan sesuai jadwal yang telah ditentukan (Lihat Jadwal Pembelian Buku Paket)

4. Orientasi Pengenalan Program/ Muhadhoroh Ta’rifiah Untuk Mahasiswa Baru diadakan pada Hari Senin, 11 Agustus 2014 Jam 08.00 (untuk Putri) dan Jam 13.00 (untuk Putra) bertempat di Ruang Kelas Persiapan.

5. Efektif mulai Semester Genap TA 2012-2013, bagi mahasiswa yang terlambat melakukan daftar ulang akan dikenakan biaya sebesar Rp 50.000,- yang wajib dibayarkan pada saat yang bersangkutan memastikan diri untuk studi di Ma’had.

Pengumuman Awal Perkuliahan

Sehubungan dengan masuknya Semester Awal Tahun Ajaran 2014-2015 maka kepada seluruh Mahasiswa Ma’had, baik mahasiswa baru maupun mahasiswa lama, perlu disampaikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Perkuliahan Semester Ganjil TA 2014/2015 dimulai pada hari Senin, 11 Agustus 2014. Sesi Putri dimulai pukul 07.15 dan sesi Putra pukul 12.45 wib.
  2. Mahasiswa Lama langsung memasuki kelas sesuai dengan hasil penilaian Ujian Akhir Semester. Jadwal perkuliahan, baik untuk sesi putri dan putra, akan ditempel di masing-masing kelas. Mahasiswa Lama tidak perlu mengikuti kegiatan Muhadhoroh Ta’rifiah sebagaimana biasanya.
  3. Seluruh Mahasiswa Baru WAJIB mengikuti Kegiatan Muhadhoroh Ta’rifiah (Orientasi Pengenalan Program) pada hari Senin, 11 Agustus 2014. Untuk Sesi Putri, Orientasi Pengenalan dimulai pukul 08.00 wib di Ruang Kelas Persiapan. Untuk Sesi Putra, Orientasi Pengenalan dimulai pukul 13.00 wib di Ruang Kelas Persiapan. Kegiatan ini Hanya Khusus untuk Mahasiswa Baru.
  4. Bagi seluruh mahasiswa Ma’had Abdurrahman Bin ‘Auf, baik mahasiswa lama maupun mahasiswa baru, DIWAJIBKAN melakukan daftar ulang/ herregistrasi sesuai jadwal dan mekanisme yang telah ditentukan. Mahasiswa yang terlambat daftar ulang, namun ingin melanjutkan belajar di Ma’had, diharuskan membayar denda keterlamabatan daftar ulang sebesar Rp 50.000,-

 Demikian pengumuman ini disampaikan untuk dapat diketahui bersama. Dimohon agar informasi yang ada dalam pengumuman ini dapat disampaikan kepada mahasiswa yang lain.

Lembaga Pendidikan Bahasa Arab dan Studi Islam