11354197-egypt-big-006

Ibnu Abbas dan Semangat Mencari Ilmu

Imam Ibnu katsir Rahimahullah, menceritakan tentang biografi Ibnu Abbas Radiyallahu `anhu dalam kitabnya Al-Bidayah wannihayah. Beliau berkata, Ibnu Abbas Radiallahu `anhu menceritakan,” ketika Rasulullah sallallahu `alaihi wasallam wafat, aku berkata kepada seorang laki-laki anshar, marilah kita bertanya ( suatu ilmu kepada ) kepada para sahabat Rasulullah, pada hari ini mereka sangat banyak. Dia menjawab, kamu ini aneh wahai Ibnu Abbas..! Apakah engkau mengira orang-orang akan membutuhkanmu, sementara para sahabat Rasulullah berada ditengah-tengah mereka.

Continue reading

dakuamatmenyintaimu_abu_dzar

ABU DZAR AL-GHIFARI

Abu Dzar al-Ghifari adalah mualaf yang kemudian dimuliakan oleh Allah dengan Islam lalu menjadi salah seorang sahabat mulia Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam. Namanya adalah Jundub bin Junadah sebagaimana yang disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir di dalam al-Bidayah wan Nihayah. Ia berasal dari suku al-Ghifar, dari keturunan bani Kinanah. Ia adalah orang yang baik. Salah satu cermin kebaikannya adalah ia segera masuk Islam setelah mendengar sabda Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam.

Continue reading

image.axd

UMAR BIN AL-KHATTAB

Seluruh Sahabat Radiallahu `anhum, dan Salafush Shalih sepakat bahwa ’Umar adalah orang (kedua) terbaik dalam umat ini setelah Rasulullah sallallahu `alaihi wasallam dan Abu Bakar As-siddiq. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash RA., dia berkata, Rasulullah bersabda: ”Wahai Ibnul Khaththab, demi Dzat Yang jiwaku ada di Tangan Nya, sekali-sekali syetan tidak akan melalui suatu jalan yang akan engkau lewati.”

Abu Hurairah ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda: ”Di antara umat-umat sebelum kamu ada orang-orang yang muhaddats (mendapat ilham), jika orang tersebut ada pada umatku, pasti dia adalah ’Umar.” (HR. Bukhari)

Dari Ibnu ’Umar ra.bahwa Rasulullah saw. bersabda: ”Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran di lidah dan hati ’Umar.” (HR. Tirmidzi)
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: ”Tidak ada satu malaikat pun di langit yang tidak menghormati ’Umar, dan tidak ada satu syetan pun yang ada di atas bumi kecuali dia akan takut kepada ’Umar.”

Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Said Al-Khudri ra., dia berkata, Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: ”Di saat aku sedang tidur, kuihat orang-orang ditampakkan kepadaku. Mereka memakai baju, ada yang sebatas dada dan ada yang di bawah itu. Ditampakkan kepadaku ’Umar, dia memakai baju yang panjang dan menyeretnya.” Para Sahabat bertanya: ”Apa takwilnya, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. Menjawab: Agama.” Diriwayatkan pula oleh Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah saw. bersabda: ”Tatkala saya tidur, saya bermimpi minum susu hingga saya melihat dalam mimpiku air mengalir dari kuku-kukuku, lalu saya minumkan air itu kepada ’Umar.” Para sahabat ra.bertanya: ”Apa takwilnya, wahai RasuluLlah?” Rasulullah saw. Menjawab: ”Ilmu.”

Imam Bukhari meriwayatkan dari ’Umar ra., dia berkata: ”Pendapatku bersesuaian dengan Kehendak Allah dalam tiga hal: Pertama, saya pernah berkata kepada Rasulullah, andaikata kita menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Lalu turunlah ayat Allah: ”….dan Jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat….” (Q. S. Al-Baqarah: 125). Kedua, saya katakan kepada Rasulullah, Yaa Rasulullah, orang yang baik dan buruk perangainya masuk ke dalam rumah isteri-isterimu, alangkah baiknya jika kau perintahkan mereka untuk berhijab. Kemudian turunlah ayat hijab. Dan ketiga, para isteri Rasulullah saw. berkumpul karena dilandasi rasa cemburu. Maka saya katakan semoga Allah menceraikan kalian semua dan Dia menggantinya dengan isteri-isteri yang lain yang lebih baik dari kalian.
Lalu turunlah firman Allah tentang hal ini.”

islamic-new-year-hijrah

KOMPETISI DALAM KEBAIKAN

Oleh: Jamal Bakrisuk

Sebuah pepatah arab yang mengatakan:

إِنْ لَمْ تَكُنْ ذِئْباً، أَكَلَتْكَ الكِلاَبُ

“Jika kamu tidak menjadi serigala, maka kamu akan dimangsa anjing (piaraan)”.

Pepatah di atas sangat sesuai untuk menggambarkan betapa keras dan kompetitifnya kehidupan saat ini. Meskipun pepatah tersebut terdengar agak sadis, namun itulah yang terjadi dalam dunia nyata. Manusia saling memangsa, yang kuat menindas yang lemah, yang pandai memeras yang bodoh, yang kaya menginjak yang miskin dan lain sebagainya. Kompetisi kehidupan terkadang tidak manusiawi, namun itulah watak manusia yang ingin selalu survive dalam mengarungi kehidupan. Mari kita mencermati kehidupan manusia secara umum di seluruh pelosok negeri, hampir setiap hari kita melihat, mendengar dan mungkin kita sendiri menjadi salah satu kontestan dalam segala bentuk kompetisi dalam kehidupan ini. kompetisi pekerjaan, ilmu pengetahuan, jabatan dan kompetisi keduniaan lainnya.

Continue reading

lonely-man-in-a-boat-wallpaper_32221

GENERASI YANG TERASINGKAN

Oleh: Ali Wafa, Lc.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (بَدَأَ الإِسْلامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ) مسلم

Dari Abi Hurairoh berkata, bahwa Rosulullah bersabda; “Islam itu pada awalnya dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing” (HR. Muslim)

Dalam riwayat Ahmad; Yaitu orang-orang yang sholih berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, orang yang mendurhakai mereka lebih banyak daripada yang mentaati mereka.” (HR. Muslim)

Continue reading

KEJUJURAN MUBAROK

Dikisahkan dari Mubarok -ayahanda dari Abdulloh Ibnu al-Mubarok- bahwasanya ia pernah bekerja di sebuah kebun milik seorang majikan. Ia tinggal di sana beberapa lama.

Kemudian suatu ketika majikannya -yaitu pemilik kebun tadi yang juga salah seorang saudagar clari Hamdzan- datang kepadanya clan mengatakan, “Hai Mubarok, aku ingin satu buah delima yang manis.”Mubarok pun bergegas menuju salah satu pohon clan mengambilkan delima darinya. Majikan tadi lantas memecahnya, ternyata ia mendapati rasanya masih asam. Ia pun marah kepada Mubarok sambil mengatakan, “Aku minta yang manis malah kau beri yang masih asam! Cepat ambilkan yang manis!”Ia pun beranjak dan memetiknya dari pohon yang lain. Setelah dipecah oleh sang majikan; sama, ia mendapati rasanya masih asam. Kontan, majikannya semakin naik pitam. Ia melakukan hal yang sama untuk ketiga kalinya, majikannya mencicipinya lagi. Ternyata, masih juga yang asam rasanya.

 Setelah itu, majikannya bertanya, “Kamu ini apa tidak tahu; mana yang manis mana yang asam? ”Mubarok menjawab.“Tidak” .

Bagaimana bisa seperti itu?”“Sebab aku tidak pernah makan buah dari kebun ini sampai aku benar-benar mengetahui (kehalalan)nya.”

“Kenapa engkau tidak mau memakannya?” tanya majikannya lagi.
“Karena anda belum mengijinkan aku untuk makan dari kebun ini.” Jawab Mubarok. Pemilik kebun tadi menjadi terheran-heran dengan jawabannya itu ..

Tatkala ia tahu akan kejujuran budaknya ini, Mubarok menjadi besar dalam pandangan matanya, dan bertambah pula nilai orang ini di sisi dia. Kebetulan majikan tadi mempunyai seorang anak perempuan yang banyak dilamar oleh orang. Ia mengatakan, “Wahai Mubarok, menurutmu siapa yang pantas memperistri putriku ini?”

“Dulu orang-orang jahiliyah menikahkan putrid-­putri mereka lantaran keturunan. Orang Yahudi menikahkan karena harta, sementara orang Nashrani menikahkan karena keelokan paras. Dan umat ini menikahkan karena agama.” Jawab Mubarok.

Sang majikan kembali dibuat takjub dengan pemikirannya ini. Akhirnya majikan tadi pergi dan memberitahu isterinya, katanya, “Menurutku, tidak ada yang lebih pantas untuk putri kita ini selain Mubarok.”

Mubarok pun kemudian menikahinya dan mertuanya memberinya harta yang cukup melimpah. Di kemudian hari, isteri Mubarok ini melahirkan Abdullah bin al-Mubarok; seorang alim, pakar hadits, zuhud sekaligus mujahid. Yang merupakan hasil pernikahan terbaik dari pasangan orang tua kala itu. Sampai-sampai Al-Fudhoil bin ‘Iyadh Rohimahullah mengatakan -seraya bersumpah dalam perkataannya-, “Demi pemilik Ka’bah, kedua mataku belum pernah melihat orang yang semisal dengan Ibnu al-Mubarok.

Hari ini, kecurangan dan penipuan sudah semakin banyak terjadi dalam kehidupan sebagian orang. Sangat jarang kita temukan orang jujur lagi dipercaya dalam menunaikan amanah serta yang jauh dari sifat curang dan penipu.

Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan hidayah kepada kita agar kita bisa selalu berkata dan berbuat jujur dan benar.

Amin..

1094782_558855527510613_113992710_n

KEMULIAAN SEJATI

Kholifah ‘Umar bin Abdul ‘Aziz memiliki seorang istri dari kalangan bangsawan yang bernama Fathimah bintu ‘Abdul Malik. Fathimah adalah seorang putri Kholifah terdahulu yang Bapaknya bernama ‘Abdul Malik. Fathimah memiliki perhiasan yang paling mahal. Perhiasan itu tidak pernah dimiliki oleh wanita lain di muka bumi.

Di antara perhiasan-perhiasan itu, ada dua anting-anting mariyah yang terkenal dalam sejarah. Para penyair pun menyebut perhiasan itu dalam syairnya. Seandainya anting-anting itu dijual, maka akan cukup untuk mengenyangkan satu suku yang besar.

Ketika tinggal bersama bapaknya, Fathimah hidup dalam kemewahan dunia. Namun ketika menjadi istri Kholifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, beliau hidup dengan sederhana. Kholifah memberikan nafkah hanya beberapa dirham dalam sehari. Fathimah rela dengan hal itu dan gembira hidup qonaah, hidup apa adanya dan senang dengan kesederhanaan.

Kholifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz selalu menasehati istrinya untuk banyak bershodaqoh. Fathimah bintu ‘Abdul Malik adalah istri yang taat, dia mematuhi nasehat suaminya. Semua perhiasan dan mutiara yang dibawanya diserahkan ke baitul mal kaum muslimin.

Demikianlah kemulian sejati yang dimilikinya, dia tetap hidup sederhana walaupun mampu hidup mewah. Hidup sederhana tidaklah mengurangi kemuliaan dirinya. Wallahu a’lam Bishshowab.

(Sumber Rujukan: Muqoddimah Kitab Adabu Az-Zifaf, Oleh Asy-Syaikh Al-Albani)

Persian-Star_org_34

KETEGUHAN IMAN SEORANG Umair bin Sa’ad Radiallahu`anhu

Oleh : Ali Wafa, Lc

 Umair bin Sa`ad adalah sahabat Rasulullah sallallahu `alaihi wsallam yang sejak kecil sudah merasakan pedihnya dan sedihnya menjadi yatim. Ayahnya Sa`ad meninggal dunia saat dia masih belia. Ia hidup bersama ibunya hingga dia beranjak baligh. Kemudian ibunya menikah lagi dengan laki-laki kaya yang masih familinya bernama Julas.

Julas, ayah tiri Umair memperlakukannya dengan baik dan penuh kasih sayang. Julas mencintai Umair seperti anaknya sendiri, sehingga Umair terobati kegundahan dan kesedihannya karena ditinggal ayahnya. Umair juga sangat mencintai ayah tirinya itu, bahkan ia telah menganggapnya layaknya ayah sendiri. Umair, Ibu, dan Julas hidup tentram penuh kebahagiaan dalam rumah tangga mereka.

Continue reading

Mendoakan Para Penguasa

Oleh : Jamal Bakarisuk

Salah satu varian ibadah yang diperintahkan Allah SWT kepada hamba-hambanya yang beriman adalah doa. Setiap hamba dapat menggunakannya kapanpun dia mau, dan dimanapun, baik dalam keadaan terdesak maupun lapang. Namun, sangat disayangkan sebagian manusia terkadang lupa terhadadap varian ibadah ini, dan sebagian yang lain hanya menggunakannya ketika dalam kondisi terjepit. Padahal Allah SWT telah berfirman: “berdoalah kepadaku niscaya akan Aku kabulkan” (QS. Ghofir: 60)

Manusia yang mengabaikan berdoa dan tidak menggantungkan harapannya kepada Allah, maka ia termasuk orang-orang yang sombong. Sebuah syair arab mengatakan :

لا تسئلنّ بني ءادم حاجةً # وسل الذي حجابُه لا يحجبُ

والله يغضبُ إن تركتَ سؤالهُ # وبني ءادم يغضبُ حين يسألُ

Janganlah engkau meminta suatu hajat kepada anak adam (Manusia). Memintalah kepada Dzat (Allah) yang tiada penghalang untuk mengabulkannya.

Allah murka tatkala kamu meninggalkan permintaan kepadanya. Sebaliknya anak adam marah ketika Engkau banyak meminta kepadanya.

Doa menjadikan seorang hamba mengerti akan jati dirinya. Manusia tidak akan pernah berbangga diri ketika menperoleh kesuksesan karena tak lain datangnya dari Allah, sebaliknya ketika manusia menemui kegagalan dan musibah tak lain dan tak bukan adalah ketentuan Allah untuk menguji dirinya. Pada akhirnya kesadaran akan jati diri melahirkan lisan yang selalu basah dengan doa dan munajat kepada Sang Khalik. Dalam setiap gerak-geriknya seorang hamba selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan, maka sudah sepantasnya selalu meminta dan memohon yang terbaik kepada Allah. Dengan doa seorang hamba tidak hanya dekat dan terikat kepada Allah, lebih dari itu ia akan dicintai oleh Allah Sang Maha Sempurna.

Di ntara doa yang harus selalu kita sisipkan di antara bait-bait doa kita kepada Allah subhanahu wata`ala adalah bait doa untuk kebaikan penguasa negeri ini, supaya selalu diberikan petunjuk oleh Allah dalam menjalankan amanahnya. Jika penguasa itu dzalim supaya meninggalkan kedzalimannya dan berpihak kepada keadilan, sehingga penguasa itu mampu menghadirkan kedamaian, kesejahteraan dan kemajuan bagi bangsanya.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “seandainya aku diberikan doa yang mustajab maka aku akan mendoakan (kebaikan) bagi para penguasa”. Imam Ahmad mengakui betapa pentingnya peran pemimpin demi terlaksananya kemaslahatan Umat, oleh karenanya pemimpin yang baik akan memberikan dampak baik pula terhadap Umat.

Apabila segala bentuk usaha telah dilakukan termasuk usaha dalam memilih pemimpin, maka yang tak kalah penting dan menjadi faktor penentu adalah penyerahan total segara urusan kepada Allah dengan memperbanyak doa. Melihat begitu kompleksnya permasalahan di Negeri yang mayoritas penduduknya mengaku muslim, tentu menimbulkan pertanyaan bagi kita semua. Bukankan Allah menjanjikan jika suatu penduduk negeri beriman dan bertaqwa maka akan dibukakan pintu berkah dari langit? Namun keberkahan yang dinanti tak kunjung datang. Maka, patut kiranya kita merenung sekaligus mengevaluasi diri sendiri dan juga keadaan umat Islam secara umum sebagai bentuk kepedulian kita terhadap sesama.

Boleh jadi keberkahan yang tak kunjung dibuka dikarenakan keadaan umat Islam yang acuh tak acuh terhadap permasalahan yang melanda umat Islam di negeri ini. Kepedulian terhadap saudara seiman menjadi bukti kebenaran iman seseorang, bahkan Rasulullah mempertegas dengan sabdanya “Barang siapa yang tidak peduli terhadap perkara orang-orang Islam bukan bagian dari kami”. (HR. Tabrani)

Mari kita tumbuhkan kembali sikap peduli kita terhadap sesama kalaupun kita tidak bisa membantu secara langsung minimal kita mendoakan kebaikan terhadap saudara kita. Diantara bukti persaudaraan dalam Islam adalah sikap tidak rela apabila ada salah satu saudaranya berada dalam kesulitan.

Rasulullah menjamin pahala bagi siapa saja yang mendoakan saudaranya dengan sabdanya : “Barang siapa yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya tanpa sepengatahuannya maka malaikat mengamini dan berkata kamu mendapatkan sebagaimana doamu” (HR.Muslim).

Doa adalah senjata para nabi dan orang-orang sholih terdahulu yang menjadikan mereka generasi utama yang patut kita teladani. Dengan doa dan keyakinan mereka menggantungkan harapan kepada yang maha mengabulkan. Allah mengabadikan beberapa kisah dalam Al-Qur’an, salah satu contohnya adalah kisah Ibrahim yang mengalami cobaan yang sulit sehingga dia dibakar hidup-hidup. Dengan doanya, Allah menyelamatkan beliau dengan menjadikan api yang panas dan membakar menjadi dingin.

Mendoakan para penguasa adalah bagian dari pertolongan kita kepada sesama, terlebih apabila penguasa di Negeri ini satu aqidah dengan kita. Dalam kesempatan dan redaksi lain Rasulullah memerintahkan umatnya untuk saling menolong sesama muslim baik dalam keadaan dholim maupun terdholimi. Jikalau kita mendapati pemimpin bertindak dholim maka kewajiban kita menasehati, jika tidak sanggup maka yang paling mudah adalah mendoakan agar Allah memberinya petunjuk.

Sebagai penutup mari kita gunakan waktu-waktu dan tempat-tempat mustajab, untuk selalu memohon kepada Allah, agar di masa yang akan datang dikaruniai pemimpin yang baik juga peduli terhadap rakyatnya, sehingga Negeri kita menjadi Negeri dambaan sebagimana firman Allah “ Baldatun Toyyibatun Wa robbun Ghofur”. Wallahu A’lam

Lembaga Pendidikan Bahasa Arab dan Studi Islam